Balada Diari
Cerita-cerita berikut ini adalah beragam pengalaman dari teman-teman yang men-share tulisannya ke imel lienda_uniq@yahoo.com
Kalau pembaca punya pengalaman lain yg menarik dan inspiratif tapi belum punya sarana untuk dipublikasikan, bisa dikirim ke alamat imel diatas…
Aku Adalah Macan di Jalan Raya Hari Itu
Hari ini adalah hari lebaran kedua 1431 H. Keluarga besarku mengadakan refrehing dengan menyewa vila di Tenjo-kaki gunung Salak, Bogor. Wilayah Tenjo memang masih asri, sejuk dan mempunyai beberapa wisata unggulan seperti curug dan pasar malam ala warga, namun ada juga tangan-tangan orang luar pribumi yang menyelam dengan membangun vila-vila dan waterpark. Apapun itu, aku hanya berharap semua orang yang tinggal nomaden dan yang hanya numpang menginap saja di sana akan menjaga keindahan, ketentraman, dan juga ketertiban di sana.
Deskripsi tersebut mengantarku pada kenyataan bahwa Tenjo adalah daerah desa yang mulai dimasuki kota. Sawah dan kebun terbentang berhektar-hektar dihiasi pemandangan cantik gunung salak. Di kanan-kiri jalan sesekali terlihat empang dan kolam-kolam pembibitan ikan, sungguh pemandangan yang cantik. Tapi di jalanannya yang sempit, anda akan sering melihat mobil-mobil perlente dan bus-bus pariwisata hilir-mudik, serta motor-motor milik penduduk yang bertebaran di pinggirnya. Di satu sisi, kenyataan ini bagus karena dengan adanya kendaraan-kendaraan itu artinya ada perputaran ekonomi yang sedang terjadi di sana, namun di sisi lain, harus ada penyeimbang untuk semua konsekuensi yang datang. Dan keseimbangan itu, tidak bisa kita lakukan sendiri.
Kejadiannya berawal saat rombongan mobil kami touring perjalanan pulang di keesokan harinya, 12 September 2010 pukul 10.00 WIB. Kebetulan mobilku berada di urutan ketiga dari rombongan. Saat itu, dua mobil rombongan yang berada di depan kami sudah jauh berada didepan, kami tertinggal di belakang sehingga terpisah. Kala itu jalanan cukup padat merayap namun lama-kelamaan jadi tidak bisa bergerak. Penyebabnya adalah tiba-tiba jalan di depan mobil kami sudah dipenuhi dengan motor yang seharusnya ada di jalur sebaliknya. Kalau anda bertanya padaku apakah kami yang ada di dalam mobil kesal? Tentu. Aku dan kakak perempuanku sudah membuka jendela dan berteriak agar pengendara motor jangan menyalip hingga ke jalur yang berbeda, tapi apa daya, inilah kekurangan warga pengguna jalan di sana. Tidak sabaran dan tidak mau mengalah!
Tumpukan motor di depan mobil kami semakin banyak, kakak iparku sesekali membunyikan klakson namun jalan terus merayap layaknya ulet keket. Aku melirik bangunan di pinggir jalan, ada kantor polisi. Menggenaskan, kemacetan terjadi di depan kantor polisi dengan tanpa ada satupun petugas yang muncul batang hidungnya. Mama yang sedang memangku adik bayi mulai bersuara kesal dan aku mulai memainkan tangan keluar jendela mengusir pada pengendara motor itu. Aku heran, kenapa mereka tidak mikir ya? Kalau mobil kami tidak bisa maju, mereka juga tidak akan bisa maju karena kemacetan bukanlah cateris paribus, jadi pasti ada sebabnya. Secara logika, apabila ada 2 jalur kendaraan namun keduanya diisi oleh kendaraan dari satu jalur, maka akan terjadi penumpukan kendaaraan di jalur yang jalannya disumbat sehingga terjadi macet total dan baru akan jalan apabila sumbatan itu dilepas. Apakah aku perlu maklum karena di sini orang-orangnya seperti belum mengenal jalan tol?
Aku sudah habis kendali memaklumi semua ketololan ini, sehingga aku dengan beraninya membuka pintu dan turun dari mobil. Motor pertama yang aku sentil adalah motor yang membonceng ibu dengan gaya mau masuk kota, motornya sudah tinggal sesenti dua senti dengan dashboard mobil kami. Aku tahu rasanya mengendarai mobil hingga nabrak dan juga tau rasanya mengendarai motor hingga nyungsruk dan nyaris ditabrak kendaraan lain dari belakang. Dan aku sarankan, jangan sampai keduanya terjadi pada siapapun lagi, maka berhati-hatilah!
“Kalau kami tidak bisa lewat, kalian juga tidak akan bisa lewat, di belakang kami macet total karena di sini semua motor nyalip menghalangi jalur kami!” tandasku kepada motor itu dan semua motor yang lain. Tanganku sudah ada di kedua pinggang. Ada beberapa motor yang mungkin dikendarai oleh mahasiswa setempat yang sedang berlibur karena posisi kami sangat dekat dengan Kampus Institut Pertanian Bogor, namun tak ada satupun dari mereka yang berinisiatif sepertiku. Jadi yang mungkin ada di pikiranku dan mereka adalah bahwa aku pernah menjadi koordinator keamanan pada OSPEK universitas atau menjadi macan jalanan dengan berorasi pada saat demonstrasi ala Universitas Indonesia, tapi tidak, aku hanya alumnus biasa yang cukup beruntung karena punya keberanian seperti ini di saat seperti ini.
Sekiranya aku menyedot banyak perhatian, motor-motor mulai menyingkir saat aku mendekat membuka jalur. Seharusnya ada yang merekam atau memoto aksiku ini karena pemandangan ini sangat langka. Langka dalam arti seorang perempuan berkacamata yang memakai rok panjang, turun di tengah jalan raya macet, berteriak dan memainkan tangan tanda mengusir. Seandainya aku punya alat pencuci otak dengan radius 3 km dengan sinyal “Hai orang-orang sekalian, tertiblah dalam berkendaraan, gunakan jalur dengan tepat dan jaga keselamatan anda sendiri atau anda akan dimarahi oleh saya” mungkin aksi ini akan lebih mudah dan pasti akan masuk headline news di TV serta menjadi sorotan pemerintah pusat dan daerah untuk membenahi wilayahnya dari kemacetan.
Setelah jalur terbuka lagi, dengan satu komentar pengguna motor, “iya bu lurah..”, aku menangkupkan kedua tanganku dan berkata, “terima kasih” pada motor terakhir yang aku suruh kepinggir menuju jalur yang benar. Akhirnya, mobil kami dan semua mobil di belakangnya pun bisa melewati kemacetan yang melanda dari sebelum kantor polisi sampai pintu gerbang Kampus Institut Pertanian Bogor. Well, tentu dengan kakiku yang sedikit gemetar karna aksi macan jalanan tadi. Perjalanan pun dilanjutkan dengan melewati jalur alternatif Kampus IPB dengan membayar uang retribusi sebesar 2ribu rupiah karena kami sudah tidak mungkin memakai jalur biasa, jalurnya sudah tenggelam oleh motor yang salah jalur, masa aku harus meneruskan aksiku lagi? Bisa-bisa beralih profesi jadi satpol PP dong!
This is life! Tak peduli seberapa banyak orang yang protes, kalau kau benar, kau akan tetap maju. Don’t just talk, Act! *Tidak ada manusia yang sempurna, tindakan bermanfaat namun berisiko seperti ini mungkin jarang aku lakukan karena melihat situasi kondisi, namun aku berharap ini menjadi inspirasi buat teman-teman yang lain agar bisa menjadi orang-orang yang bisa membangun dirinya sendiri, orang lain, bangsa dan agama. Terima kasih.
Best regards, true_ewi@yahoo.com
Maaf,beberapa tulisan ada yg diedit tapi tidak mengurangi inti dari cerita ini..
Balada diari 2
Minggu, 24 Oktober 2010, Dzuhur hujan
Hi! gimana kabarnya? Hari ini aku ingin sharing tentang aktivitas di kampusku sewaktu dulu, kiranya ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. Aku kuliah di Fakultas Kesehatan di salah satu kampus unggulan di Jakarta. Hm, gampang ditebak, apalagi kalau aku bilang, kampusku ini adalah kampus penghasil aktivis-aktivis dan sudah biasa melakukan aksi massal ke bundaran HI. Nah, bahasan kita kali ini tidak jauh dari seputar aksi.
AKTIVIS ATAU BUKAN, SEMUA HARUS BERANI UNTUK YANG BENAR!
Di kampusku, aksi sudah merupakan kegiatan biasa dan menjadi pembuka paradigma kami sebagai penerus bangsa yang harus bisa kritis dan berpikir konkret untuk negara. Untuk mahasiswa baru, biasanya diberikan pembekalan tentang aksi pada saat orientasi. Tujuannya agar mahasiswa di kampus kami tidak menjadi bagian dari aksi anarkis dan tetap berintelektual. Ada beberapa tahap yang harus ditempuh sebelum melakukan aksi, termasuk didalamnya adalah tahap konsolidasi dan negosiasi, namun apabila di tahap-tahap itu belum menuai hasil, maka aksi akan dilakukan sebagai salah satu tindakan responsif yang nyata dalam bentuk protes dan memberikan pembenahan terhadap pemerintah yang berkuasa.
Mengapa harus aksi? Banyak polemik seputar kegiatan aksi bergejolak, terutama tentang manfaat dan kerugian ekstrem yang dihasilkan, sehingga aku sarankan lebih baik anda tidak terlalu terpengaruh dengan pendapat orang sebelum anda merasakan sendiri menjadi peserta aksi yang berjuang dengan isunya, masyarakat yang sedang diperjuangkan isunya, dan juga menjadi orang yang sedang diusung namanya dalam aksi. Banyak buku yang bercerita tentang aksi mahasiswa sebelum tahun 2000, namun menurut pendapat pribadiku, tidak semua isinya perlu dipercaya, ada tangan-tangan orang lain yang suka ikut campur dan memberi image negatif dalam aksi mahasiswa. Aku berikan beberapa contoh diantaranya, tapi maaf aku tidak bisa mendetailkan ceritaku kali ini karena terbatas daya ingat, validitas dan kewenangan. Beberapa bahasan disini berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, belum tentu anda akan mempercayainya, tak masalah bagiku.
Well, aku mengajak anda ke topik yang asli yakni tentang pemaknaan aksi dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Kejadiannya kira-kira saat aku sedang rehat menunggu yudisium di pertengahan tahun 2009. Saat itu aku sedang menyejukkan diri di bawah AC yang baru sebulan ini dipasang di sebuah toko koperasi di kampus. Sembari membantu teman-temanku juga di sana menjaga kasir di sore hari, aku menonton televisi. Ketika itu ada 4-5 adik kelasku masuk ke dalam toko dan mulai berbelanja. Aku memperhatikan penjaga toko mengganti channel televisi ke dalam topik berita. Rupanya ada liputan tentang aksi larangan rokok yang baru tadi siang berakhir. Serentak adik-adik kelasku itu menatap layar televisi dan bersorak, rupanya merekalah yang tadi siang melakukan aksi anti rokok itu, lumayan bagus, pikirku.
Namun tak lama, ada salah satu distributor toko yang masuk ke dalam ruangan untuk bertransaksi, sayangnya, ia merokok dan ia masih terus menghisap rokoknya di dalam ruangan. Aku perhatikan adik-adik kelasku itu mulai berbatuk-batuk kecil dan menyipit-nyipitkan mata tanda protes. Ruangan itu ber-AC, jadi tentulah bau asap rokoknya mulai tercium di seluruh ruangan. Sebenarnya aku berharap ada salah satu dari adik kelasku itu yang berani menegur bapak itu karena posisi berdiri mereka juga dekat, tapi ternyata tidak. Alhasil, aku berdiri dari dudukku, berjalan ke arah bapak itu dan menegurnya dengan halus, “Pak, mohon tidak merokok, disini ruangan AC”, bapak itu menurut, ia keluar ruangan, mematikan rokoknya, lalu masuk lagi ke dalam ruangan. Aku tersenyum kecil. Kuperhatikan adik-adik kelasku ini dan berharap dalam hati semoga mereka kelak bertambah berani dengan benar, tidak sekedar aksi anti rokok di televisi seharian tapi tidak berani menegur orang yang merokok padahal sudah jelas ada di depan mata dan dalam kondisi yang memungkinkan untuk menegur. Tolong ya, keluarkan keberanian kalian untuk hal yang benar dan tidak sekedar sok-sok an. Televisi baru selesai mengantar berita tentang kehebatan kalian dalam aksi, tapi aku disini menyaksikan kalian yang tidak bisa berbuat banyak. Entahlah, sepertinya aku agak kesal.
Aku hanya mahasiswa biasa yang mencoba menikmati dan memaknai semua kegiatan yang aku harapkan manfaatnya, bukan seorang aktivis yang gimana gitu. Semasa kuliah sarjana, kuakui aku hanya ikut aksi 3 kali. Biasanya saat aku memutuskan untuk ikut aksi, aku memperhatikan beberapa hal, misalnya masalah waktu, apakah aku harus bolos kuliah atau tidak, seberapa penting isu yang diusung, dan bagaimana kondisi aksinya. Aksi pertama, solisaritas untuk Palestina, aku ikut aksi ini karna sudah jelas isunya, manfaatnya, dan juga karena aku sedang senggang, namun tidak sampai maghrib karena aku sedang puasa. Yang kedua aksi kesehatan Kanker Leher Rahim, kalau yang ini menyangkut profesi, selain itu juga masuk nilai pada mata pelajaran pemberdayaan pengorganisasian masyarakat. Dan yang terakhir, Aksi Tugu Rakyat (Tujuh Gugatan Rakyat) tahun 2009 yang merupakan aksi besar di Monas. Ratusan atau entah ribuan aktivis dari berbagai kampus memadati jalan raya dan mobil-mobil lengkap dengan sound system dan atribut aksi. Jujur saja, aku hanya cerita pada orangtua saat aksi yang kedua. Aku memaklumi bila masih ada orang tua yang tidak mengizinkan anaknya ikut aksi. Pernah ada kejadian sebelum aku masuk kuliah tahun 2005, salah satu seniorku yang cukup terkenal di kalangan pemerintah sebagai macan orasi, ia hampir diculik oleh orang-orang tak kenal selagi melakukan perjalanan setelah ia melakukan aksi yang isunya cukup menggemparkan dunia politik. Aku jadi ingat kasus Munir. Seniorku ini memang sering menjadi koordinator aksi, orasinya pun berbobot, sekarang ia sudah mengeluarkan buku di penerbit, mungkin suatu hari nanti ia akan menulis tentang kejadian itu. Bisa jadi seperti buku Gurita Cikeas dong! Tapi sekali lagi, itu bukan alasan untuk tidak ikut aksi ya.
Dulu pada saat aku mau masuk kuliah tahun 2005, kampusku memulai rencana penerapan admission fee atau uang pangkal untuk membiayai perkuliahan yang berubah menjadi BHMN. Untuk FK, FKG, FT dikenakan add fee 25juta, sedangkan sisanya bervariasi dibawahnya. Akibatnya, ada beberapa calon mahasiswa yang telah lolos ujian masuk mengundurkan diri. Usut punya usut, ternyata, rencana add fee ini sudah lama ada namun belum terlaksana karena terus-menerus ada aksi dari mahasiswa. Tapi pada zaman aku masuk, aksinya sudah tidak mempan lagi terhadap kampus. Kemudian tak lama, muncul aksi lagi untuk menentang kebijakan baru bahwa biaya persemester akan naik dari 1,5 juta menjadi range 2,5-7 juta persemester. Aksi ini bertahan hingga tahun 2007, tahun 2008 kebijakan itu tak terbendung lagi dan diterapkan di kampus. Apakah anda mengerti? Tanpa ada aksi yang telah dilakukan dahulu, uang kuliah yang harus kami bayar mungkin berlipat kali lebih mahal dari yang seharusnya. Sayangnya, bila mahasiswa menjalankan aksi, tak peduli dari mahasiswa aktivis ataupun akademisi, banyak yang protes, tapi kenyataannya, orang-orang yang tua tidak bisa berbuat banyak, bahkan orang-orang yang tua pemegang kebijakanlah yang membuat semua keadaan menjadi demikian gamang. Sama seperti sekolah SMA ku dulu, saat ini, uang masuknya sudah selangit dan biaya perbulannya juga seperti uang kuliah. Kiranya, mereka yang masuk bukan lagi mereka yang murni berprestasi, namun juga mereka yang punya uang. Dan apa yang orang tua biasanya lakukan kalau sudah begitu? Apakah mereka bisa melakukan protes yang berarti? Ah, aku akan membiarkan otak anda berirama sendiri.
Kita lanjutkan, untuk cerita yang satu ini, aku mendengarnya berdasarkan story telling yang katanya berasal dari buku. Ini tentang aksi massal mahasiswa di depan gedung DPR/MPR yang berlangsung hingga beberapa hari, mahasiswa mendirikan tenda-tenda untuk mempertahankan isu tersebut. Kalau tidak salah tentang Reformasi. Waktu itu, hasil yang memuaskan telah dicapai, mahasiswa dan rakyat bersenang hati. Namun dari tempat kejadian, ada cerita diluar itu semua yang menurutku orang patut tidak percaya karna mungkin ada provokatornya, yakni ditemukannya sejumlah kondom dari area mahasiswa bermukim di malam hari pada minggu-minggu aksi tersebut berlangsung. Sampai sekarang aku juga penasaran dengan cerita itu, benar atau tidaknya aku belum tau. Ada lagi di beberapa kasus lain, aksi mahasiswa dinilai anarkis, bakar-bakar ban, hingga bentrok dengan aparat. Saat itu ada contohnya tertanyang di televisi, aksi massal di depan monas, mahasiswa membakar ban, jaketnya warna kuning. Namun tahukah anda? Orang mungkin bisa mengira itu adalah mahasiswa dari kampus kami, padahal bukan, hanya jaketnya saja yang warna kuning, tapi tidak ada lambang atau emblem almamater kampus kami, jadi jangan salah kira, orang-orang itu bukan dari kampus kami.
Yah, dalam pemikiranku, aksi dilakukan karena ada ketidak sinkronan dalam padanan hidup bermasyarakat. Sebenarnya aksi tidak perlu terjadi bila ada komunikasi, terutama musyawarah untuk mufakat. Orang tua pernah menjadi anak-anak, tapi anak-anak belum pernah menjadi orang tua. Jadi mana yang lebih tepat? Anak-anak yang harus memahami orang tua atau orang tua yang memahami anaknya? Bila dalam pikiranku sudah jelas orang tua yang harus memahami anaknya, lalu mengapa orang tua membuat kebijakan menyulitkan anak? Sama dengan pemerintah yang membuat kebijakan namun menyulitkan rakyat, padahal kalau pemerintah ditukar menjadi rakyat, mereka juga akan protes dengan kebijakan yang mereka buat sendiri. So guys, cerita kali ini memang memiliki kompleksitas yang lumayan tinggi, tak akan berakhir bila masing-masing memegang teguh egonya. Yang penting adalah, aktivis atau bukan, semua harus berani untuk yang benar!
This is life! Tak peduli seberapa banyak orang yang protes, kalau kau benar, kau akan tetap maju. Don’t just talk, Act! *Tidak ada manusia yang sempurna, tindakan bermanfaat namun berisiko seperti ini mungkin jarang aku lakukan karena melihat situasi kondisi, namun aku berharap ini menjadi inspirasi buat teman-teman yang lain agar bisa menjadi orang-orang yang bisa membangun dirinya sendiri, orang lain, bangsa dan agama. Terima kasih
Best regards, true_ewi@yahoo.com
