Ngeyel
Di sebuah desa, Yogyakarta, sebagian orang berkumpul kemudian ada yang berkomentar “anak-anak jaman sekarang kalau tidak ngeyel bisa buat hati orang tua senang”
Dari kalimat tersebut muncul satu pikiran bahwa, anak yang tidak ngeyel menjadi salah satu indikator orang tua untuk mendidik anak. Dalam terminologi bahasa indonesia kata ngeyel sulit untuk diterjemahkan tapi ngeyel mungkin bisa dianggap sebagai ngotot atau keras kepala.
Lebih dalam yang bisa disimak maksud dari “ngeyel” pada cerita diatas adalah ketika orang tua dan anak saling berbeda pendapat. Dalam kasus ini walau bagaimanapun pintarnya sang anak namun ketika dia tidak mendengarkan orang tua karena dianggap tidak sepaham, anggapan “ngeyel” akan muncul didalam pikiran orang tua. Sehingga muncul masalah dalam komunikasi, hal ini bisa dikatakan bahwa terjadi kesalahan dalam proses penyampaian cara, padahal jika anak mau mendengarkan orang tua, pastinya pendapat orang tua dianggap yang terbaik bagi anaknya.
Oleh karena itu, kita sebagai anak sebaiknya mengawali kesadaran dihadapan orang tua bahwa kita adalah anak. Pendapat orang tua yang tidak sesuai dengan cara fikir dan nilai-nilai yang dianggap anak baik tapi tidak bagi orang tua, sebaiknya disesuaikan dengan sikap dan cara berfikir mereka, kemudian sampaikan secara baik. Sehingga kita mudah memasukkan pendapat kepada orang tua.
Hal ini mirip dengan prinsip aikido yaitu pinjam tenaga lawan lalu belokkan.
Semoga bermanfaat.

